Rabu, 08 Juli 2020

Pengajar Jelajah Nusa 2019 : Nusantara ku, Nusantara mu


Cita-cita mereka adalah harapan hidup dan nafas bagi Indonesia di kala Ibu Pertiwi kian menua. Nusantara ku, nusantara mu.

Ya, mereka, anak-anak Indonesia di garis terdepan, terluar, dan terpelosok dari kilauan Nusantara. Sebuah harapan yang kian memanggil jiwa-jiwa muda yang peduli untuk meraih dan menggenggam erat mimpi-mimpi mereka. Pengajar Jelajah Nusa bukanlah tentang kita, tapi tentang mereka…

April 2019, seusai bertarung dengan Ujian Nasional SMA dan sedu-sedannya perhelatan jalur undangan, sebagian hatiku bertanya, mau apa setelah ini? Ada banyak waktu ke depan yang masih kabur, akan untuk apa aku gunakan? Belajar UTBK kian hari malah membuat sesak, berdebat tentang prodi kian membuat muak. Sebenarnya aku mau kemana? Pertanyaan klise anak muda yang usai SMA.

Honestly, aku udah tau program Pengajar Jelajah Nusa (PJN) ini sejak angkatan pertama di tahun 2017. Saat itu masih kelas satu SMA, kali pertama aku mendaftar PJN. Namun gagal. Aku sadar saat itu aku memang gak pantes sih, malah masih belum ngerti sebenarnya PJN itu apa. Lalu, 2018 aku daftar lagi. Kali ini penuh harap, semoga bisa berkesempatan melihat sisi terluar Indonesia seperti kakak-kakak di angkatan sebelumnya. Namun alasan itu juga terlalu sederhana untuk membuat namaku berada di 24 peserta yang lolos.

Tahun kemarin, sebenarnya hampir saja aku menyerah. Menyerah pada keadaan dan alur hidupku yang ketika itu masih belum tau akan dilanjutkan ke mana. Sampai akhirnya seseorang berkata padaku, “Mau bagaimanapun kamu tetap akan terus hidup selama kamu punya impian dan ketika impian itu terasa kabur bagimu, maka carilah,”. Jadi akhirnya aku daftar PJN lagi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini aku gak banyak harap, entah mau lolos atau tidak, aku hanya ingin mencari kebermaknaan diriku bagi hidup ini.

Mei 2019, sambil belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi (yang sebenarnya juga udah ogah-ogahan), juga sambil mengikuti alur seleksi PJN ; esai dan wawancara. Menulis esai PJN seperti merefleksikan diri, mengingat lagi sudah berapa jauh langkah yang diambil? Sudah seberapa banyak jarak dan kesulitan yang dihadapi? Dan apakah dari itu semua kita sudah cukup berterima kasih pada diri kita sendiri? Ini tentang kebermaknaan hidup. Bahkan dari alur seleksi ini saja sudah menerangi sebagian jiwaku yang saat itu terasa hambar. Dari situ, aku percaya bahwa PJN bukan sebuah event ‘biasa’.

Semakin menulis semakin aku sadar, bahwa hidup ini tidak pernah tunggal. Semuanya terhubung seperti benang. Hal yang sudah aku lalui ternyata bisa ada karena orang lain, iya orang lain. Hal yang membuatku melangkah ternyata juga karena keberadaan orang lain. Di titik ini aku mulai berpikir, apakah aku juga memiliki makna untuk orang lain? Apakah aku bisa membuat seseorang melakukan sesuatu dan mencapai tujuannya karena adanya diriku? Dari sini, mataku terbuka, yang kucari bukanlah tentang aku; tapi tentang mereka. Aku ingin berbagi, bukan karena aku punya banyak, tetapi aku tau rasanya saat  tidak punya apa-apa.

Hingga pengumuman itu datang, akhirnya namaku bisa tertulis di laman PJN sebagai peserta yang lolos pada seleksi tahap akhir, bersama 29 yang lain dari penjuru Indonesia. Grup WhatsApp mulai dibentuk, berkenalan dan saling sapa via balon pesan. Latihan fisik dan segala persiapan dimulai sejak dua minggu sebelum hari-H PJN. Mempersiapkan cinderamata untuk teman baru dan menyiapkan diri untuk penjelajahan panjang..

Akhirnya hari itu tiba, 24 Juni 2019, dimulailah program PJN yang diawali dengan masa pelatihan selama tiga hari di Wisma Kinasih, Bogor. Jadwal kami cukup padat dari pagi hingga pagi lagi yang membuat waktu tak terasa mengakrabkan kami. Obrolan-obrolan panjang di meja makan. Ucapan semangat yang selalu membersamai setiap hela nafas lelah. Bahu yang siap menyangga kepala-kepala yang tertunduk menahan kantuk. Tepukan hangat yang membuat ramai, hingga rasanya tak ada lagi ruang sepi. Serta senyum dan ilmu dari kakak fasilitator yang membekali kami.

Jatim Squad for PJN 2019 : (dari kiri) aku, kak Ailin, dan kak Haidir
Pertama kali ketemu di bandara
Kamar 01 Girls check : (dari kiri) kak Muti, kak Ailin, aku, kak Riana, Clarisa, Nanda, Dinda, Vincent

Di penghujung pelatihan di hari pertama, kami mendapat pengumuman penting yakni pembagian lokasi penempatan! Jujur aku ini deg-degan banget, karena sebelumnya aku belum pernah keluar Jawa. Takut-takut aku tidak adaptif ketika lokasinya sangat berbeda dengan Jawa.
Dan jeng jeng jeng …
Halmahera Selatan Squad ver 1.0 (dari kiri) : (atas) Luthfi, Windy, Aufa, kak Dwi, kak Ren, (bawah) Raziq, kak Safari, Zahra, aku, kak Azam (Fasil Sawanakar), kak Haidir, dan kak Kamri (Fasil Indong)
PJN 2019 full team!

Selama tiga hari pelatihan banyak dinamika yang terjadi, kadang membuat kesal tapi sering kali membuat sayang. Pertukaran pengajar yang tak disangka hingga pos pelatihan adaptasi budaya yang menguras energi :v Sampai akhirnya, di hari terakhir masa pelatihan, kami dilantik sebagai Pengajar Jelajah Nusa di depan bendera merah putih. Tangis, peluk, ucap semangat, dan doa mengiring perpisahan kami menuju jalur penerbangan masing-masing pada dini hari. Berharap bisa bertemu lagi setelah penjelajahan yang mendewasakan.

Halsel we're coming!!! (Ada yang baru nih : Arid and Nanda)
Paser, Kalimantan Timur Squad check (dari kiri) : (atas) kak Muti, Vincent, kak Sinta (Fasil), kak Vanessa, Clarisa, Zahra. (bawah) Dirga, Raziq, Zidan, kak Kamil, kak Fajri (Fasil), kak Firman uwu.
Palembang, Sumatera Selatan check (dari kiri) : (atas) kak Nusril, kak Aik (Fasil), kak Riana, kak Intan, Ifah, Dinda, Fariz, Allan. (bawah) Taufik / Mustika Dewi, kak Ninin (Fasil), Adhati, kak Ailin.

Perjalanan pun dimulai!!
Dari Bogor ke Depok, dari Depok ke Makassar, lanjut ke Ternate, terus ke Labuha, dan naik bodi ke Desa Sawanakar. Total perjalanan kurleb 12 jam dan disinkronkan dengan WIT jadi 14 jam.
Bersama LO Halsel, kak Gritte dan kak Jojo yang motoin

Kedaton Kesultanan Ternate

Mengisi kegabutan akibat delay pesawat Ternate-Labuha

Naik turun pesawat 3 kali, naik angkot, lalu naik perahu mesin untuk sampai di Desa Sawanakar. Berangkat pukul 1 dini hari dari Depok dan sampai di desa pukul 8 malam. Luar biasa capeknya. Semua keluh kesah itu langsung sirna ketika merapat di dermaga, tanganku langsung digandeng oleh tangan-tangan kecil serta sapaan malu-malu yang menuntun menuju rumah hostfam. Sebuah sambutan yang sederhana; begitu hangat.

Hari pertama di desa, kami habiskan dengan malam perkenalan dengan hostfam masing-masing. Aku dengan Windy di rumah Mamak Aisya, kak Ren di rumah Mamak Tia, dan kak Safari dengan Luthfi di rumah Mamak Asma. Malam itu, aku makan malam di rumah hostfam pertama kalinya, berbincang seputar keadaan Jawa Timur saat ini (kebetulan mamak Aisya asal Tuban, Jatim) dan kami disuguhi makan malam ikan asap dengan sambal bawang yang nikmaattt.

Mamak Aisya seorang perantau, asalnya dari Tuban, Jawa Timur. Bertemu pertama kalinya dengan Papa Irsul di tanah Papua ketika Papa Irsul melakukan rutinitas melaut jauh. Dari pertemuan itu, Papa Irsul melamar dan menikahi Mamak Aisya di Tuban. Namun setelahnya, Mamak Aisya memilih untuk mengikuti asal dari Papa Irsul yaitu di Labuha, Maluku Utara. Ketika Papa Irsul dan Mama Aisya akhirnya memutuskan untuk memulai kehidupan secara mandiri di Desa Sawanakar (setelah sebelumnya di Labuha), saat itu Desa Sawanakar masih terdiri atas beberapa rumah saja dan belum ada akses listrik sama sekali. Desa Sawanakar yang aku datangi sudah berkembang jauh lebih baik dengan kurang lebih 30 kepala keluarga dan akses air bersih dan listrik selama enam jam dalam sehari. Papa Irsul dan Mama Aisya diberkahi lima buah hati, yang ketika aku datang, kelima-limanya sedang berada di rumah yaitu Nadia, Rizqi, Dwin, Nadita, dan si kecil Azzam yang masih berusia dua tahun.

Malam itu, aku, Windy, Mama Aisya, dan Papa Irsul mengobrol cukup banyak hingga tengah malam sebelum listrik padam. Kelima buah hati papa dan mama sudah tidur terlelap setelah aku dan Windy datang dan menyapa mereka. Jujur ketika pertama kali memulai percakapan aku agak kaku dengan logat dan bahasa Papa Irsul yang sangat kental khas Indonesia Timur. Beruntungnya ada Mama Aisya yang kelahiran tanah Jawa dapat mengerti ketidakpahamanku terhadap beberapa kosa kata baru. Kami bercengkrama tentang Pengajar Jelajah Nusa, asal daerahku di Jawa Timur, asal daerah Windy di Jambi, cerita sejarah Desa Sawanakar hingga sekilas kronologi perjalanan rumah tangga Papa Irsul dan Mama Aisya.

Salah satu hal yang membuatku terkagum adalah prinsip mendidik anak yang dipegang teguh oleh para orang tua desa itu yakni “Biarlah kami tidur beralaskan tanah, asalkan kami dapat melihat bintang-bintang”. Artinya orang tua di sana tidak peduli jika harus hidup kekurangan, asalkan putra-putri mereka bisa mendapatkan pendidikan dan menjadi “bintang” bagi keluarga mereka. Dengan fasilitas sekolah yang hanya satu saja di desa ini dan merupakan sekolah dasar, tidak mematahkan asa para orang tua untuk menyekolahkan putra-putri mereka di seberang pulau sana seperti di Labuha, Pulau Bajo, bahkan Ternate. Sama seperti anak pertama Papa Irsul dan Mama Aisya, Nadia, yang kini mengenyam bangku SMP di pulau seberang.

Aku sangat bersyukur bisa disambut dan diterima dengan sehangat ini, di sebuah keluarga di tempat jauh yang baru saja aku datangi, yang di tengah segala keterbatasan masih sadar akan pentingnya pendidikan untuk anak-anaknya. Malam itu, aku tidur di sana pertama kalinya. Kamarnya sederhana, dengan kasur kapuk beralas karpet di lantai, jendela dengan gorden sarung, dan sinar lilin seadanya. Listrik dan air hanya ada enam jam dalam sehari. Sebab telah melalui perjalanan melelahkan malam itu, aku langsung tertidur setelah bebersih diri ditemani suara ombak pulau Bacaan yang terdengar jelas.

Esoknya, hari kedua, dikagetkan dengan adzan Subuh jam lima pagi yang memekak telinga. Ternyata musholla desa tidak jauh dari sini. Disusul dengan suara Mamak Aisya yang mengetuk pintu kamar dan mengingatkan untuk sholat Subuh. Sial, mataku susaaah banget buat melek di pagi pertama aku di desa, pukul 5 pagi WIT sama dengan pukul 3 pagi di tempatku berasal. Dan sialnya lagi, Windy yang sekamar denganku mengalami hal serupa. Jadilah kita molor sampai jam enam dan autopanic untuk melaksanakan ibadah sholat subuh :v

Pagi itu juga aku merasakan segarnya mandi di kamar mandi terbuka yang persis di atas laut. Rasanya orang lain di kamar mandi seberang bisa menyapaku. Dengan air yang harus ditampung dulu pada jam tertentu, air dan kotoran yang langsung jatuh ke laut, langit yang seakan menatap, dan suara debur ombak yang sahut-menyahut mengiringi. Pengalaman baru yang membuatku sangat bersyukur dan berpikir ulang mengapa ketika di rumahku sendiri aku sangat malas untuk mandi.

Sarapan bersama anak-anak mamak, ditemani teh manis, dan ramainya suasana rumah untuk menyiapkan Riski berangkat ke SD. Papa sudah berangkat pagi dini hari sekali untuk melaut. Sekolah Riski adalah satu-satunya sekolah yang ada di desa ini sekaligus menjadi sekolah yang menjadi tujuanku untuk mengajar sepekan. SDN 135 Halmahera Selatan. Jam 7 aku keluar rumah menjemput kak Ren, Luthfi, dan Kak Safari untuk bersiap mengajar di sekolah.
 
Depan rumah mamak Aisya tepat ada balai desa

Pagi pertama di desa

Hari itu hari Jumat, harusnya hari itu pengambilan raport dan libur setelahnya. Namun karena mengetahui akan kedatangan Pengajar Jelajah Nusa, pengambilan raport ditunda dan anak-anak antusias untuk tetap datang ke sekolah. Jadilah pagi itu pertama-tama kami bersilaturahmi ke rumah bapak Kades, menyapa warga, ke sekolah lalu mediasi dengan kepala sekolah dan bonding dengan anak-anak dari SDN 135 Halsel! Menyenangkan sekali karena semua memberikan sambutan yang baik pada kami.
Ini adik-adik yang sekelompok sama aku buat pensi. 
Trio anak SMA yang baru lulus dan digalauin SBMPTN : (kiri) Windy asal Jambi dan (kanan) Luthfi asal Bengkulu. Miss u so bad guys

Rutinitas kami menjadi pengajar anak-anak SDN 135 Halsel sangat mengesankan. Setelah melakukan bonding dengan permainan di hari kedua, hari-hari selanjutnya kami isi dengan pengajaran yang menyenangkan. Hari ketiga kami bermain “sulap” dengan ilmu science sederhana yang mengundang gelak tawa.  Hari keempat kami membagi menjadi tiga kelas pengajaran yaitu kelas Matematika untuk kelas 1-2 SD, kelas Bahasa Inggris untuk 3-6 SD, lalu di akhir waktu kami menjadikan satu kelas 1-6 SD (yang hanya terdiri dari 70an anak) untuk membuat prakarya dari tali warna warni. Hari-hari selanjutnya mengalir begitu saja, memperkenalkan Indonesia, lagu kebangsaan, kebhinekaan, Pancasila, hingga berbicara tentang cita-cita. Di hari libur, hari Minggu, semua anak-anak mengikuti lomba permainan Balap Karung dan Balap Katinting yang kami adakan bersama pemuda desa di lapangan.
Science Fun Day
English Time! Spelling words and 3 magic words
Bikin prakarya
SDN 135 Halmahera Selatan
Pemandangan depan sekolah

Pertengahan hari, setelah paginya bermain dan belajar bersama adik-adik, biasanya kami dipanggil oleh Mamak hostfam kami untuk membantu masak dan makan siang. Sorenya, di tiga hari pertama agenda kami adalah jelajah wisata! Hari kedua kami menumpang bodi ke Pulau Batura, pulau dengan pasir pantai putih bersih, deretan hutan bakau, dan sunset yang menghanyutkan sebagian jiwa. Salah satu panorama yang selalu ku rindu untuk bisa kembali ke sana. Hari ketiga kami lagi-lagi keluar pulau, kali ini lebih jauh, ke Pulau Pinangkara. Pulau dengan pantai berbatu dan jalan licin untuk sampai ke sisi seberangnya. Namun jangan salah, ketika sudah sampai di spot terbaik, kami seketika terpana oleh terumbu karang yang terlihat jelas sekali di antara air laut yang jernih. Sore di hari keempat hingga keenam kami habiskan di desa bersama anak-anak; mencari sabeta (ulat sagu) di hutan lalu membakar dan memakannya, mengajarkan keterampilan origami, mempersiapkan pentas seni untuk penampilan di malam perpisahan, atau sekedar duduk di dermaga rumah Mamak Tia dengan pemandangan sunset yang hangat sambil menyantap kudapan.
 
Pulau Batura
Senja yang hangat
sunset di dermaga desa Sawanakar
Serius ini cuma di dermaga desa
Pulau Pinangkara
Sampe lupa ngefoto terumbu karang saking bagusnya

Kadang ikutan masak bareng mamak-mamak desa

Bikin kue yasudah bareng mamak Asma

Menjelang maghrib, kami berkumpul di musholla desa untuk mengajar mengaji. Kegiatan ini sebenarnya adalah kegiatan yang begitu saja kami lakukan setelah adik-adik bercerita bahwa beberapa bulan terakhir guru mengaji mereka sedang sakit sehingga tidak bisa mengajar. Kami tetap di musholla hingga selesai sholat Maghrib berjamaah dengan warga. Kembali ke rumah hostfam untuk istirahat sejenak, makan malam, dan mengobrol santai. Beberapa hari sebagian kami gunakan waktu malam untuk berkumpul bersama pemuda di balai desa yang kebetulan sedang libur sekolah, membentuk kepanitiaan dan merencanakan agenda gotong royong satu desa dan perlombaan permainan anak-anak di hari Minggu. Pemenangnya akan dianugrahi hadiah pada malam pentas seni. Begitulah waktu melekatkan kami dalam sekejap.
Mengaji
Nongki di balai desa



Lomba Balap Karung, ada Balap Katinting jugaa tapi aku lupa naro fotonya dmn gais
Selain bikin kegiatan lomba buat anak dan remaja, kami bersama pemuda Sawanakar juga bikin kegiatan senam dan gotong royong satu desa di hari Minggu

Hari-hari terus bergulir dan mendewasakan kami. Kami berlima tim penempatan Desa Sawanakar ditambah Kak Azam selaku fasilitator, menghadapi berbagai dinamika setiap harinya. Di tengah sambutan yang begitu hangat sekali pun, ternyata ada saja hal-hal di luar perkiraan dan masalah yang tiba-tiba muncul. Pertengkaran pasti terjadi, tapi itu yang mendewasakan kami. Tidak butuh lama untuk bisa akrab kembali karena setiap malam sebelum kami kembali ke rumah hostfam masing-masing untuk beristirahat kami selalu berkumpul; melakukan refleksi atas apa yang terjadi hari ini, pencapaian yang lebih baik dari hari kemarin, dan berdiskusi untuk hari esok. Semua itu melegakan dan mengembalikan tawa sebelum kami mengakhiri hari.
 
Dan begitulah, ketika akhirnya waktu membawa kami di hari keenam, hari terakhir yang malamnya diadakan pentas seni sekaligus perpisahan dan esok di hari ketujuh akan datang bodi yang menjemput kami. Mengawali hari lebih pagi dari biasanya, jam enam pagi aku dan Windy sudah siap dengan rompi PJN. Kami berniat untuk mengambil foto sunrise di dermaga desa. Sambil menyantap kue khas Maluku dan teh hangat bikinan Mamak, kami mengobrol sejenak, tidak menyangka kalau besok kami sudah akan kembali. Mamak mengajak kami untuk membuat kue sore harinya yang akan dibawakan pada kami sebagai bekal besok. Aku terharu.

Pagi itu, sambil berjalan ke dermaga, ternyata penduduk desa sudah bangun. Berbagai aktivitas terlihat mulai dari ibu-ibu yang menggendong anaknya, bapak-bapak yang menyeruput kopi di teras, dan beberapa remaja yang melakukan peregangan tubuh. Semuanya menyapa, membuat energi pagi itu menjadi positif. Aku jadi nyesel, kenapa baru di hari keenam aku bisa bangun pagi dan menyaksikan kekhidmatan ini. Sampai di dermaga, aku dan Windy mengambil beberapa foto bersama mentari terbit, mentari yang lebih cepat dua jam daripada mentari di kota ku. Sekilas terlintas, apakah papa mama di rumah sudah bangun ya? Sepekan tanpa sinyal yang artinya tanpa komunikasi apa pun dengan orang tua ku ternyata juga membuat rindu. Beberapa detik membayangkan segala keruwetan di kota asal, rutinitas hidup, sekolah, keluarga, dan teman-teman. Ah, besok-besok aku pasti bisa menghadapinya dengan lebih baik lagi.
Hangatnya sang mentari setia menemani

Windy teman sekamarkuu

Sampai pukul delapan aku dan Windy menghabiskan waktu duduk di pinggiran dermaga, kami tidak bicara, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Udara pagi begitu lembut dengan sedikit bau air laut dan ikan asin yang dijemur. Sejauh mata memandang hanya ada lautan dan samar-samar pantai di pulau seberang. Tertunduk sedikit ke bawah dermaga, juga ada pemandangan menakjubkan dari terumbu karang dan ikan nemo yang terpapar mentari pagi. Kami menghela nafas dan memotret sebanyak-banyaknya panorama pagi di Desa Sawanakar dengan memori otak kami, sebelum esok kembali. Syukur tiada tara kepada Tuhan yang memberi kesempatan dan berjanji pada diri sendiri untuk berbuat lebih banyak lagi setelah ini. Tanpa sadar, kami bertumbuh di desa ini.

santuy di ujung dermaga

Pagi sampai siang hari itu, kami melakukan semacam gladi resik untuk penampilan malam nanti. Beberapa kali adik-adik bertanya-tanya, “Besok kakak sudah kembali kah?”. Aku hanya tersenyum, tidak mau meredupkan semangat adik-adik untuk tampil di balai desa. Setelah dari sekolah, kami berlima berkumpul dengan pemuda untuk menyiapkan dekorasi, hadiah, berlatih pembawa acara, dan pidato terima kasih. Sambil menggambar dan mengguntingi kertas, kami banyak bercerita. Ternyata sama saja, remaja-remaja di Desa Sawanakar juga punya cerita unik tentang pergaulan dan pergalauannya. Masa muda memang se-greget itu.
nyiapin dekor

Menjelang sore, hujan turun deras, padahal siang sangat terik. Aku dan Windy buru-buru pamit untuk kembali ke rumah Mamak Aisya karena ada janji membuat kue bersama. Hingga maghrib akan tiba dan kami menyelesaikan kegiatan memasak, hujan belum juga reda. Aku memutuskan untuk bersantai sejenak di kamar, berpikir mungkin kegiatan mengaji akan libur dulu karena hujan.

Baru saja aku dan Windy menuju pintu kamar, ada suara empat orang anak berteriak di depan rumah. “Kaka ayo belajar mengaji! Sa su tunggu kakak sejak tadi”. Aku dan Windy melongo tidak percaya. Kalau di kota kami, sekolah saja bisa libur (alias meliburkan diri) karena hujan. Kalau di sini ternyata beda ceritanya, ah, lihat, keempat anak itu juga membawakan payung untuk kami. Akhirnya kami segera bersiap dan berangkat ke musholla di tengah hujan deras. Di sana, sudah ada kak Safari yang mungkin lebih dulu “dijemput”.

Selepas Isya, malam pentas seni dimulai. Beruntung hujan sudah reda, kami, warga, adik-adik semua berkumpul di desa. Tak sabar menyaksikan penampilan dan mengenang sedalam-dalamnya momen ini. Malam itu berjalan dengan khidmat, di akhir semuaya tak kuasa menahan air mata, terutama adik-adik SDN 135 Halmahera Selatan yang begitu dekat dengan kami. Tidak menunggu akhir acara, bahkan di tengah penampilan mereka tak kuasa menahannya. Tapi semua itu sangat indah untuk dikenang hingga waktu-waktu selanjutnya..
Hadiah buat pemenang balap karung dan balap katinting

:)
my favorite squad
Pagi hari ketujuh mau tidak mau akhirnya datang juga, aku dan Windy juga bangun pagi-pagi, berkemas barang dan merapikan kamar yang sudah menjadi tempat kami bermalam akhir-akhir ini. Rencananya bodi akan datang menjemput jam 8 pagi, maka kami memulai hari sepagi mungkin agar bisa berpamitan ke warga dan juga adik-adik. Sebelum keluar untuk berkumpul dengan Luthfi, kak Ren, dan kak Safari, aku dan Windy sengaja duduk berlama-lama di ruang tamu bersama mamak dan anak-anaknya. Papa Irsul tentu sudah pergi melaut tengah malam tadi. Kami mengucapkan banyak terima kasih dan maaf serta memberikan sedikit cinderamata yang kami bawa dari kota asal, berharap bisa dikenang meski hanya sekejap sekali berada di sini.

Pukul tujuh, kami berkumpul, berencana untuk berpamitan ke satu-persatu rumah hostfam. Namun kejutan, kak Azam membawa kabar kalau bodi baru akan menjemput jam sebelas siang dan anak-anak telah berkumpul di SD untuk diajar kakak-kakak pengajar terakhir kalinya. Seketika kami langsung berlarian ke SD. Padahal langit saat itu mendung dan jalanan licin karena gerimis, seakan ikut sedih kalau hari ini adalah hari kami untuk pulang.

Adik-adik memakai seragam putih-merah khas SD, mereka begitu riang ketika kami datang, dan minta diajarkan lagu-lagu nasional dan membaca peta. Hari itu kepala sekolah dan dua guru pengajar juga hadir. Kak Safari dan Kak Ren berinisiatif berbagi ilmu cara membuat power point untuk pengajaran menggunakan laptop sekolah. Hari itu dingin karena mentari tidak terik, tapi kami lega setidaknya di akhir waktu kami tetap bisa merasakan energi besar dari adik-adik.

Begitu cepat hingga akhirnya waktu sudah mendekati pukul sebelas, kelas ditutup, semua murid bersalaman pada kami. Membuat syahdu suasana. Bapak kepala sekolah dan guru berterima kasih dan memberi cinderamata pada kami. Harusnya kami yang banyak berterima kasih atas kesempatan berharga ini. Sisa waktu yang kami punya di desa, kami gunakan untuk berpamitan ke rumah hostfam satu-persatu sekaligus mengambil tas dan barang bawaan lalu langsung menuju dermaga.
 

Mamak Asma, roti bikinan beliau enak pol. Rumah mamak Asma sering kita bikin tempat evaluasi malem.

Mamak Tia. Di rumah ini jadi basecamp trio anak SMA karena banyak jajannya :v

Mamak Aisya, Luthfi seneng banget kalo diajakin aku sama Windy makan di sini apalagi makan sotong :v Sayang banget, pas mau pulang papa Irsul masih melaut.

Dan begitulah, sampai bodi benar-benar menepi di dermaga desa. Pemuda, adik-adik, papa-mamak, dan warga desa melambai, mengucap terima kasih dan sampai jumpa hingga ujung dermaga makin kecil dan tidak terlihat lagi. Rasanya seperti meninggalkan rumah. Ingin kembali suatu saat nanti. Kami berlayar menuju Desa Indong, cukup jauh, butuh satu jam untuk sampai dan berjumpa dengan lima kawan kami lainnya; Aufa, Arid, Nanda, kak Haidir, kak Dwi, dan kak Kamri. Dua jam berikutnya lagi-lagi kami mengarungi lautan Bacaan hingga sampai di pelabuhan Labuha.

Apakah sudah selesai? Belum. Kami masih ada waktu 24 jam lagi yang akan kami isi dengan beberapa kegiatan di Labuha. Kami menginap semalam. Hari itu kami melakukan audiensi ke Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, berkunjung ke rumah dinas Bupati Halmahera Selatan, mampir ke benteng Barnaveld, dan menikmati kuliner di Labuha. Suasana makin ramai karena kini kami ada berdua belas.
Audiensi Dinas Pendidikan Kab. Halmahera Selatan
Audiensi Bupati Kab. Halmahera Selatan 

Hari berganti, pagi-pagi sekali pukul lima kami sudah berkemas dan bersiap di angkot. Pukul enam, menuju Bandara Oesman Sodiq Labuha dan pukul tujuh pesawat take-off menuju Bandara Sam Ratulangi Manado. Dari sana, kami melanjutkan penerbangan ke Bandara Soekarno Hatta, dan tiba di Tangerang pukul 12 siang WIB. Di jemput oleh bus yang ternyata teman-teman kami dari Kaltim dan Sulsel sudah tiba lebih dulu. Kami langsung ramai berpelukan dan bercerita padahal semuanya terlihat kusam dan pastinya belum mandi. Beberapa ada yang tampak menggelap (termasuk aku), makin berisi, dan tentunya makin berseri setelah penjelajahan yang mendewasakan.
Ini hari ke berapa gak mandi dan gak keramas gais? :v

Apakah cerita sudah selesai? Ternyata juga belum, sedikit lagi. Kami bertiga puluh menjalani serangkaian Orientasi Pasca Penempatan (OPP) di Hotel Swiss Jakarta Barat (aku agak lupa sih, cmiiw ya). Rasanya berkumpul lagi dengan teman-teman setelah penjelajahan ternyata luar biasa. Penjelajahan itu memang mendewasakan, berada di tempat baru dengan budaya yang berbeda membuat kami menjadi manusia yang lebih menghargai dan bijak. Meskipun tentunya belum sebijak dan sedewasa itu (karena penjelajahan dalam hidup kami masing-masing akan terus berlanjut). Beberapa pola bicara, tingkah laku, dan sikap sangat terlihat perbedaannya dibanding saat masa training. Jangan ditanya lagi bagaimana kebersamaan kami begitu terasa di empat hari terakhir sebelum kami kembali pada kehidupan di kota masing-masing.

OPP ngapain aja? OPP ibaratnya adalah sebuah koma, perhentian sejenak. Henti untuk beristirahat, mengingat, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman yang telah dilalui sepekan terakhir. Mementaskan penampilan yang menunjukkan segenap perasaan dan cerita di penempatan, melakukan presentasi, dan refleksi personal dengan kakak-kakak fasil dari Indonesia Mengajar. Momen refleksi personal seperti cermin, yang menampar diri sendiri, dan memberikan energi besar untuk bisa lebih baik di hari-hari berikutnya. Kami juga melakukan kunjungan ke kantor Indonesia Mengajar, di sana kami menemui lebih banyak lagi kakak-kakak yang sudah mengabdikan masa mudanya selama setahun di penempatan. Kami yang hanya sepekan tentu tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Lucunya, kami juga bertemu dengan kakak yang menyeleksi esai dan mewawancara kami. Ketika berkenalan, kakaknya langsung menebak kami sesuai esai dan wawancara yang sudah kami lakukan sebelum bergabung dengan PJN.
masih kucel belum skinkeran
Mustika Dewi

Banyak benih-benih cinta yang tumbuh, ikatan persaudaraan yang kian erat, dan semangat untuk berkolaborasi berbuat lebih banyak lagi setelah ini. OPP ditutup dengan derai air mata, bukan atas kesedihan karena berpisah, namun haru yang mendalam. Bangga kepada teman-teman, kakak-kakak, dan diri ini atas pengalaman yang luar biasa. Malam Gala Dinner pun begitu, cerita-cerita kami menjadi sebuah sajian menarik yang akan selalu kami ingat. Besoknya, kami saling melambai tangan menuju terminal penerbangan masing-masing. Bersiap untuk menghadapi rutinitas kehidupan seperti sedia kala.
Gala dinner
Bersama kak Azam yang sangat sabar menghadapi dan membimbing kami berlima selama training dan penempatan. Sehat selalu ya kak!
Jatim Squad pulang duluuuu.. kak Ailin ke Sidoarja, kak Haidir ke Malang, aku ke Situbondo, dan kak Muti ke Tuban
Apakah sudah selesai? Mungkin sudah selesai. PJN sudah selesai. Tapi persaudaraan ini tetap berlanjut, bahkan hingga hari ini aku menulis, tepat setahun setelah PJN 2019. Hari ini 6 Juli 2020. 36 peserta PJN 2020 sudah terpilih, selamat! Bagaimanapun penjelajahan yang akan kalian lalui, di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, aku yakin kalian akan bertumbuh dengan indah sekali. Ah iya, setahun ini juga kami, PJN 2019, tetap menjaga ikatan yang sudah tercipta bahkan berkolaborasi di beberapa kesempatan. Rasanya menyenangkan mengikuti perkembangan masing-masing individu meski hanya melalui sosial media dan balon pesan. Terima kasih banyak atas kesempatan ini, bisa berada dan bersama kalian adalah bekal berharga untuk ku.

“…layaknya benih yang tersebar di tanah yang subur, tumbuh dan berkembanglah di Tanah Saruma, Halmahera Selatan.”
Ini pesan yang didapat ketika pembagian penempatan. Saat itu aku belum ngerti, apa maksudnya?
Dan akhirnya aku mengerti serta menemukan makna tumbuh dan menjadi dewasa. Aku menemukan aku dan impianku. Juga menemukan tentang mereka. Desa Sawanakar sudah punya tempat tersendiri di hati. Untuk setiap pulau yang kami datangi. Untuk setiap lautan yang dilewati. Untuk setiap doa yang terpanjat ketika akan naik bodi. Untuk setiap teriakan semangat dan tepukan yang membersamai. Terima kasih.

Buat kamu yang udah baca, ada bonus Tips Menulis Esai Seleksi PJN dari Alumni PJN 2019. Ini linknya : bit.ly/TipsPJN2019 
Semoga bermanfaat ya!